Desa lobutolong seperti yang sudah di ceritakan di Huta Lobutolong sebelumnyaadalah sebuah desa yang dimana warga nya hidup dari sektor pertanian. Komoditi terbesar dari daerah ini adalah buah nenas.
Menurut cerita dariPetua-petua kampung diperkirakan pohon nenas mulai berkembang di daerah ini sekitar tahun 1960 an. Pertama sekali yang membawa pohon nenaske daerah ini adalahBp Besli Simanjuntak (Alm). Beliau mencoba menanam nenas di kebunnya tepatnya di atas rura Aekhole. Lambat laun dikarenakan hasil panennya lumayan akhirnya masyarakat setempat mulai melakukan penanaman pohon nenas tersebut. Yang mana sebelumnya masyarakat hanya bertanikopi, padi dan tumbuhanplawija lainya. Tetapi dengan adanya pohon nenas yang mana panenya satu kali dalam satu minggu dan lebih cepat menghasilkan diut akhirnya warga beramai-ramai menanam nenas sampai sekarang ini.
Kendala yang dihadapi warga pada saat itu adalah sulitnya untuk menjual hasil panen tersebut,dikarenakan sarana transportasike Lobutolong masih sangat memprihatinkan. Dimana jalan yang bisa dilalui mobilhanya sampai desa Lumban Julu yang berjaraksekitar 4 km dari desa Lobutolong. Dengan kondisi jalan yang tidak memungkinkan untuk dilalui kendaraan bermotor apalagi cuaca tidak mendukungmembuat para Agen maupun Toke enggan untuk datang langsung ke Lobutolong untukmembeli buah nenas tersebut.
Dengan kondisi demikianwarga harus mengantar buah nenas mereka ke Lumban Julu dengan cara memikul didalam karung maupun dengan menggunakan sepeda angin. Setiba ditempatbaru dijual ke pada paraToke maupun Agen-agen yang sudah menunggu, tentu dengan harga yang sangat rendah. Tetapiwalaupun dengan harga yang sangat rendah warga harus menjualnya agarbisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Hampir 50 tahun sudah berlalu. Dengan perkembangan jaman, pembangunan di daerah ini memang sudah mulai berkembang walaupun belum dapat dikategorikan maju.Infrastruktur jalan yang sudah dibuka dan sudah dapat mengakses langsung ke perkebunan-perkebunan warga. Walaupun kondisi jalanya masih berlubang-lubang akibat tidak adanya pemeliharaan ataupun perawatan.
Tetapi sebagai putra daerah Lobutolong saya pribadi. Juga mungkin masyarakat Lobutolong lainya mengucapkan terima kasih kepada pemerintah akan pembangunan yang sudah ada walaupun kisah atau cerita seperti diatas dialami oleh masyarakat Lobutolong terjadi hampir 30 tahunan.
Demikian hasil pemikiran saya ini saya uraikan dengan harapan Lobutolongsemakin maju dan Buah Nenas tetap menjadi primadona di desa Lobutolongdan Sipahutar pada umumnya. Terimakasih
Lobutolong adalah sebuah Kampung Nan Asri di Kab Tapanuli Utara tepatnya masukdalam wilayah pemerintahan Kec Sipahutar.
Yang Letak Geografis nya terdiri dari Lintang Utara : 02001-02014’. Bujur Timur : 98057-99016’.
Luas Wilayah 408.00km2. Sekitar 24 km Timur laut Kota Tarutung.
Menurut data BPS Camat Sipahutar 2008 Jumlahpenduduk Kec Sipahutar 2500 jiwa.Kepadatan penduduk 45/km. Jumlah desa kelurahan 22.
Mengulas sedikit tentang Sipahutartentu kita akan ingat pertama sekali adalah Buah Nenas dan jugaMarga Silitonga.
Mayoritas masyarakat sipahutar hidup dari hasil pertanian, salah satunya dengan bertaninenas. Komoditi terbesar dari daerah ini adalah Nenas, Kopi Arabika dan Robusta. Sipahutar adalah daerah penghasil Nenas terbesar di Indonesia. Tapipabrik pengalengan nenas tidak ada satu pun di Sipahutar. Sungguh ironis memang. Padahal didaerah Sumatra Utara begitu banyak berdiri pabrik Multi Internasional. Yang jadi pertanyaan adalah :
‘Tidak adakah Investor yang berminat untuk mengelola potensi yang ada di Sipahutar’
‘Tidak adakah perhatian dari Permerintah Daerah TK II, TK I, Pusat maupun putra daerah
yang berminat untuk memajukan Sipahutar nauli ? Padahal Eks Gubsu Alm Raja Inal Siregar pernahmengatakan Masipature Hutanabe.
Jawaban pertanyaan diatas adalah: Rap mamereng ma hita.
Kita kembali ke cerita Sipahutar .Kalau kita bicara akan sipahutar saya yakinkita tidak akan lupa akan marga Silitonga. Daerah sipahutar adalah asal muasal dari Marga Silitonga. Ini terbukti dengan adanya Monumen Raja Silitongadi jalan lintas sipahutar-pangaribuan. Dan Mayoritas penduduk kota sipahutar adalah bermarga Silitonga. Jadi semua marga Silitonga yang ada JagatRaya ini adalah par Sipahutar.
Kembali ke Lobutolong, Lobutolong yang masuk dalam wilayah Desa Siabal-abal Imemilikiluas wilayah 30.50 km2. Jumlah pendudukmenurut data BPS 2008 sekitar 1.662 jiwa. Desa ini dipimpin oleh seorang Kepala Desa periode 2007 s/d2012 Bp Ramses Tampubolon dan Sekdesa Bp Demak Simorangkir.
Desa ini berjarak +8 KM dari Ibukota KecamatanyaSipahutar kearah Kec Pangaribuan. Tepatnya di desa lumban julu kita masuk ke jalurkanan kearah Sitapongan, sekitar 4 kilometermaka tibalah kita di Bonani Pasogit Huta Lobutolong.
Penduduk desa Lobutolong mayoritas beragama Nasrani yakni Protestan dan Katolik.Terdiri dari berbagai macam marga. Penduduk asliyang mendiami desa ini adalah Marga Tampubolon, Simanjuntak,Simangunsong, Napitupulu,Silalahi, Silitonga dan beberapa marga pendatang. Dan lobutolong terbagi dalam 3 wilayah yakni :Lobutolong, Lobutolong I, Lobutolong II. Atau dalam bahasa sehari-hari warga disebut :Tor Habinsaran,Tor tonga-tonga, dan Tor Hasundutan.
Tor habinsaran berada di sebelah barat, tor tonga-tonga di pertengahan, dan tor hasundutan berada di sebelahSelatan. Desa lobutolong terdiri dari beberapa dusun kecil atau dinamakan huta. Yaitu : Huta Banjarnahor,Sosorsiambolas,Sampetua,Lumban pinasa,Sangkarnihuta,Lumban hariara, Lumban Sonang dan banyak lagi.
Desa ini diperkirakan sudah dihuni sejak tahun 1400 dansebelum Belanda masuk menjajah Indonesia. Ini terbukti dari Silsilah keturunan atau tarombo penduduk setempat. Yang mana penduduk yang mendiami desa ini sekarangadalah generasi ke 6 dan 7.
Ada sesuatu yang unik akan daerah ini terutama akan nama-nama Porlak maupun Rura. Porlak artinya Kebun. Rura artinya Sawah.
Setiap Porlak maupun Rura pasti ada sebutanya, seperti Porlak Hurungan, Indorayon,Sipelpel,Rura Pinasa, Rura Hinali, Rura Siambolas dan sangat banyak lagi. Diantara sekian rura itu adadua rura yang sangat penting di kampung ini. Dimana kedua rura ini adalah akses penghubung alternatif diantarahuta lobutolong. Rura pinasa adalah penghubung Huta Tor tonga-tonga ke Tor hasundutan. Dan Rura hinali adalah penghubung Huta Tor tonga-tonga ke Tor Habinsaran. Jadi naik Robean (Gunung) sudah biasa dikampung ini.
Penduduk Lobutolong mayoritas hidup dari hasil pertanian karena letak geografis nyasangat mendukung untuk pertanian. Komoditi terbesar adalah nenas dan kopi.Setiap rumah pasti punya kebun Nenas dan juga kebun kopi. Memang bukan cuma nenas dan kopi yang dihasilkan dari daerah ini, hasil pertanianlain berupa plawija, padi, jeruk manisjuga banyakdihasilkan dari daerah ini. Dan baru-baru iniKakao atau Kopi Coklat juga sudah mulai dikembangkan didaerah lobutolong.
Ada satu hasil pertanian yang sangat fenomenal dari daerah ini yakni Jeruk Manis. Mungkinpernah mendengar “Jeruk ManisSangkarNihuta”. Itu berasal dari Desa lobutolong tepatnya dari huta sangkarnihuta. Pemiliknya bermarga Napitupulu. Jeruk manis ini dari segi rasatidak kalahdengan jeruk Brastagi. Cuma kalo bicara ketenaran nama,sudah pasti kalah jauh. Terbatasnya modal dan kurangnya perhatian dari pemerintah untuk memberi bantuan modal maupun penyuluhan-penyuluhan dari ahli ahli pertanian memang menjadi kendala bagi penduduk lobutolong untuk mengembangkan usaha pertanianmereka.
Permasalahanbagipenduduk lobutolong dan Sipahutar pada umumnya hingga saat ini adalahsulitnyamenjangkau sarana pendidikan.
Belum tersedianya sekolah-sekolah kejuruan dan Perguruan tinggi di daerah Sipahutardan masih terbatasnya sarana trasportasi harus memaksa anak-anak lobutolong untuk sekolah di kota dan harus perpisah dari orang tua. Padahal kalau melihat dari minat dan kemauananak-anak Lobutolong, sangat berminat untuk melanjutkan sekolah kejenjang yang lebih tinggi lagi. Dan itu juga sangat di support oleh para orang tua. Tetapi dengan sulitnya menjangkau sekolah-sekolah tersebut maupun terbatasnya sarana transportasi sangat berpengaruh terhadap biaya yang akan dikeluarkan oleh para orang tua. Dengan harga hasil pertanian yang semakin merosot dan biaya pendidikan yang semakin mahal, kita tidak tahu seperti apa bona pasogit ini 10 atau 20 tahun kemudian.
Semoga sajakedepannya akan semakin lebih baik. Agar tercipta SDM yang lebih baik dan mau memajukan Lobutolong maupun Sipahutar.
Demikian hasil pemikiran saya ini saya ungkapkandengan harapan sebagai putra Lobutolong apa yang diharapkan oleh masyarakat Lobutolong maupun Sipahutar akan terwujud dikemudian hari.Sebelumnya saya minta maaf akan keneranian saya menulis tentanglobutolong ini. Yang jelas saya bangga sebagai anak Lobutolong sekaligus prihatin akan keadaan yangada sekarang.Itulah maksud dan tujuan saya menuliskan semua ini. Mauliate.